Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Ustazah Vitria Anjelika Terrobos Kobaran Api Demi Selamatkan 3 Santri, Mulai Keadaannya Kini

 

Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidz Guntur yang berlokasi di Dusun Pangkalan Batu, Desa Ranggung,

Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan terbakar Minggu (6/6/2021).

Dalam kejadian itu menghanguskan semua benda yang ada di Pondok Pesantren tersebut.

Beruntung, semua santri dan santriwati selamat dari kejadian itu.

Namun nahasnya, seorang ustazah yakni Vitria Anjelika (18) menjadi korban dalam amukan si jago merah.

Sang ustazah yang masih berusia 18 tahun itupun masih baru mengajar di Ponpes Tahfizh Guntur.

Kini, Ustazah Vitria dirawat di Rumah Sakit Kalbu Intan Medika (KIM) Pangkalpinang.

Dengan kondisi berbaring lemas, kanan dan kirinya bahkan punggungnya dipenuhi perban serta punggung tangan yang menutup kain.

Selain itu, jarum infus menempel di bahu kanannya.

“Demi menyelamatkan santriwati, motor ustadz dan uang yayasan Rp4 juta,

dari donatur Rp1,7 juta dia yang memegang, saat kejadian kebakaran sehingga dia ikut terkena api,”

kata Farida, ibu Vitria saat ditemui Bangkapos.com, Senin (7/6/2021).

“Dia menciptakan apabila uang tidak mencapai dirinya, dirinya tidak ada uang mengantikannya, itu amanah orang,” tambahnya.

Farida menyebutkan, Vitria Anjelika menjadi Ustazah di pondok pesantren Tahfiz Guntur Pangkalan Batu yang berasal dari Irat Kecamatan Payung.

Farida mengaku bersama suaminya Ismanto (ayah Vitria) sempat shock setelah mendapat kabar pesantren itu terbakar.

“Ada yang nelpon bahwa pesantren kebakaran, sebelumnya belum tahu anak saya kena luka bakar,

setelah langsung dibawa ke puskesmas Payung dan berkunjung ke Rumah Sakit Kalbu Intan Medika,” ucapnya.

Kini Ismanto dan Farida berharap agar putri mereka berhasil sembuh.

Terjun dari Ketinggian 3 Meter

Ustazah Vitria Anjelika sendiri saat kejadian tersebut terbangun sekitar jam 3 pagi setelah merasakan suhu panas di kamar.

Ia lalu membangunkan para santriwati yang masih membangunkan,

bahkan ia memiliki api naik ke lantai dua untuk menyelamatkan seorang santriwati yang belum terbangun.

Ustazah 18 tahun itu turut menjadi korban kebakaran Pondok Pesantren Tahfizh Guntur

yang ada di Dusun Pangkalan Batu, Desa Ranggung, Kecamatan Payung pada Minggu (6/6/2021).

“Saat jam 3 fajar terbangun karena merasakan panas.

Saat bangunan api sudah semakin membesar daerah pojok yang perempuan.

Saat terbangun memanggil ustaz,” kata Ustazah kepada Bangkapos.com, Senin (7/6/2021).

Selepas memanggil ustaz, Ustazah Vitria langsung membangunkan anak-anak, yang dua itu Cahaya sama Sinta langsung ke bawah.

Sementara itu seorang santriwati lain bernama Mahatul susah bangun, ia kembali lagi ke atas untuk membangunkannya.

“Setelah bangun langsung membawanya ke bawah sambil memapahnya.

Apinya dari atas posisikan pondok jadi apinya sudah ke bawah semua,” ucapnya.

“Di bawah itu ada tempat ngajar dan motor ustaz Mansur

itu berada di situ jadi supaya enggak kemakan api berpikir untuk menyelamatkan motor,

jadi secepatnya tenaga menyelamatkan motor dibawa jauh dari kobaran api,” lanjutnya.

Motor selamat, Ustadzah itu kembali mematikan dengan uang yayasan.

“Karena itu uang yayasan saya enggak punya uang untuk penggunaannya.

Saat itu api sudah menyebar ke seluruh pondok tapi saya nekat masuk lagi sendiri

ke dalam untuk menyelamatkan uang yayasan tersebut melalui pintu yang penuh dengan api,” jelasnya.

“Karena api sudah besar banget jadi tidak mungkin saya turun ke bawah pelan melalui tangga, jadi saya memilih untuk terjun dari lantai atas,” sambungnya.

Setelah terjun ke bawah dari ketinggian kurang lebih 3 meter dengan memakai gamis,

ustadzah tersebut lari tak selang berapa lama pondok pesantren tersebut roboh.

Ada 3 santriwati yang dipuji oleh ustadzah semuanya selamat dan tidak ada luka luka.

Saat mengambil uang api itu sudah di belakang, api sudah mengenai jilbab ustadzah.

Tanpa sadar terjun dari atas api itu masih menyala di jilbab.

Setelah sadar api tidak menyala lagi dijilbab, ustadzah itu lari tenaga untuk menghampiri santri-santri yang sudah ada di gerbang.

Saat sampai di gerbang para santri itu teriak sembari berkata “buku ku buk, tas ku buk baju ku buk”.

Jadi ustadzah tersebut memanggil santri laki-laki dan menyuruh mereka memanggil warga setempat.

“Siapapun itu yang laki-laki tolong panggil warga kampung pangkalan batu,” katanya menceritakan.

setidaknya ada dua santri yang membantu mencari pertolongan dengan

berjalan kaki dan memakai senter dua santri tersebut pergi ke Pangkalan Batu sekitar 400 meter dari pondok pesantren.

Saat warga Pangkalan Batu mengetahui pesantren kebakaran, para warga pun berteriak untuk menembak kepada warga lain

“Pesantren kebakaran, pesantren kebakaran, teriak warga,” tirunya.

Sangking besarnya api sampai ke warga pun tidak memakai senter saat mendekati lokasi kejadian.

Jalani Dua Kali Operasi

Saat itu ustadzah itu hanya merasakan panas dan dibawa dengan motor ke rumah warga

dan saat sampai di rumah satu di antara warga melihat punggung Usatzah sudah melepuh karena luka bakar.

Kata dia, di ponpes hanya ada dua orang ustazah dan ustaz. Santri semuanya ada 19 orang.

TK 8 orang dan tidak menginap, kemudian ada 10 orang yang menginap di antaranya tiga perempuan dan 7 laki laki.

Ustazah Vitria Anjelika mengalami luka bakar akibat kebakaran Pondok Pesantren Tahfizh Guntur di Dusun Pangkalan Batu,

Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Bangka Selatan, Minggu (6/6/2021) lalu.

Sebelumnya, Ustazah Vitria Anjelika sempat dirawat di Puskesmas Payung kemudian dikirim ke Rumah Sakit Kalbu Intan Medika.

“Ke Payung dulu sempat diinfus sebentar, kemudian unduh langsung ke sini (RS KIM),”

kata Ismanto, ayah korban saat ditemui Bangkapos.com, Senin (7/6/2021).

Setelah menjalani dua kali operasi di bahu dan yang kedua pada luka bakar di beberapa bagian tubuh, Ustazah Vitria Anjelika mengakui sudah mulai memperbaiki.

“Alhamdulillah mulai mendingan karena dikasih salep atau obat jadi berkurang,” ucap Vitria Anjelika.

“Operasi di bahu masih sadar disuntik bius juga tidak kerasa sakit.

Operasi kulit masih sadar dan merasa dingin, kemudian diurutkan kemudian tidak sadar,” sebutnya.

Menurut Ustazah Vitria Anjelika, jika keadaan belum membaik juga akan beroperasi lagi bagian kulit yang terbakar kata dokter.

Anak ke-3 buah hati Ismanto dan Farida itupun hanya bisa berbaring di ranjang rumah sakit.

Kondisinya yang mulai membaik ketika bercerita dengan awak media ini.

Namun untuk kondisi fisiknya yang dibalut dengan perban di beberapa bagian tubuh.

“Cuma bisa telentang, tidak mengizinkan dokter untuk posisi lain,” ucapnya.

Luka bakar yang dialami oleh Ustazah itu di kedua tangannya, punggung dari pinggang sampai ke atas, telinga dan kepala.

Iswanto menambahkan, sangat bertema kasih kepada bapak Iskandar dan pak Ahmadi selaku pihak yayasan yang mengawasi saat perawatan di RS Kim.